Kasih Sayang Ibu
Di
pagi hari Ibu membangunkanku di saat Aku masih ingin terlelap dengan
nyenyaknya. Kemudian ia bergegas menuju ke dapur untuk mengambilkan air yang
sudah ia panaskan untuk ku pakai mandi. Ibu benar-benar tahu kalau Aku tidak
suka mandi air dingin. Seusai mandi Aku pun berjalan ke meja makan untuk menyantap
sarapan dengan adikku yang bernama Natalia. Namun, di pagi itu Ibu terlambat
menyajikan sarapan di meja makan. “Bu, sarapannya jangan lama-lama. Aku bisa terlambat
ke sekolah..” kataku pada Ibuku yang mungkin berusia 52 tahun. Aku tak pernah
tahu pasti usia Ibuku karena Aku membenci Ibuku. Ibuku memilih bercerai dengan Ayahku
karena menurut Ibuku Ayahku t’lah berselingkuh dengan wanita lain. Tapi karena
perceraian itulah Aku membenci Ibuku. Sejak mereka bercerai hidupku mulai
hancur. Aku merasa serba kekurangan. Kekurangan kasih Sayang orang tua,
kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupku, dan masih banyak lagi.
Padahal dulu sebelum mereka bercerai hidupku terasa amat indah. Semua serba
berkecukupan. Walaupun sekarang Ibu yang menggantikan posisi Ayah sebagai
tulang punggung keluarga itu masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari dan kebutuhan sekolahku. Aku sangat membenci Ibu.
setelah sarapan Akupun berangkat menuju ke sekolah dengan mengendarai motor matic kesayanganku. Perjalanan sejauh 8 km ku tempuh dalam waktu 25 menit saja. Sesampaunya di sekolah Aku langsung menuju ke ruang kelasku. Tiba-tiba, “Lily??” sapa salah seorang teman kelasku yang sering menjajahkan barang dagangannya kepada siswi di SMAku. “Iya, ada apa? Ada barang baru lagi ya?” jawabku penasaran. “Iya, ini kosmetik pemutih terbaru di jamin oke..” tawarnya sambil menunjukkan barang dagangannya. “tidak, trima kasih.. Aku kan sudah putih untuk apa menggunakan pemutih??” jawabku bercanda. “Bilang saja kalau kamu tidak punya uang.. tidak perlu sok keputihan..” ejeknya padaku. Tapi memang betul sejak perceraian orang tua ku Aku sudah jarang membeli produk temanku ini. Padahal dulu Aku adalah langganannya yang setia. “ah.. kenapa ini harus menimpaku?? Katanya Tuhan itu adil kenapa Tuhan membuatku menderita seperti ini.. itu kan tak adil..” kataku dalam hati.
Jam pelajaran pertama di mulai. Hari ini Aku belajar mate-matika pelajaran favoritku dulu. Tapi, sekarang Aku bahkan malas untuk belajar pelajaran favoritku ini. Sejak Aku tinggal dengan Ibu Aku mulai malas untuk belajar dan lebih memilih bersantai-santai saja seolah-olah tak ada masa depan yang sedang menantiku. Kadang terpikir dalam benakku mengapa Aku tak ikut Ayah? Mengapa harus ikut Ibu? Jika bukan karena Ibu memenangkan hak asuh anak di pengadilan maka hidupku pasti akan bahagia. Seandainya Aku bisa memilih hidup dengan siapa. Ayah, tahukah dirimu bahwa anakmu ini rindu sosokmu dalam hidup ini. Akhir-akhir ini Aku sering memikirkan tentang Ayah bahkan terlalu sering Aku memimpikannya. Aku selalu berpikir Ayah adalah yang terbaik Di bandingkan dengan Ibu. Ibu bukan lah apa-apa selain orang yang melahirkanku. Tapi Ayah adalah orang yang menafkahiku, melindungiku, menyayangiku, mengajariku banyak hal bahkan ia tak pernah memperdulikan dirinya demi anaknya.
Sepulangku dari sekolah Aku tak langsung ke rumah. Selalu ku sempatkan diriku untuk berjalan-jalan di sekitar pantai untuk melepaskan rasa gunda di hati ini. Pemandangan matahari yang akan terbenam membantuku melupakan semua masalah dan beban hidupku, walaupun hanya sesaat.
setelah sarapan Akupun berangkat menuju ke sekolah dengan mengendarai motor matic kesayanganku. Perjalanan sejauh 8 km ku tempuh dalam waktu 25 menit saja. Sesampaunya di sekolah Aku langsung menuju ke ruang kelasku. Tiba-tiba, “Lily??” sapa salah seorang teman kelasku yang sering menjajahkan barang dagangannya kepada siswi di SMAku. “Iya, ada apa? Ada barang baru lagi ya?” jawabku penasaran. “Iya, ini kosmetik pemutih terbaru di jamin oke..” tawarnya sambil menunjukkan barang dagangannya. “tidak, trima kasih.. Aku kan sudah putih untuk apa menggunakan pemutih??” jawabku bercanda. “Bilang saja kalau kamu tidak punya uang.. tidak perlu sok keputihan..” ejeknya padaku. Tapi memang betul sejak perceraian orang tua ku Aku sudah jarang membeli produk temanku ini. Padahal dulu Aku adalah langganannya yang setia. “ah.. kenapa ini harus menimpaku?? Katanya Tuhan itu adil kenapa Tuhan membuatku menderita seperti ini.. itu kan tak adil..” kataku dalam hati.
Jam pelajaran pertama di mulai. Hari ini Aku belajar mate-matika pelajaran favoritku dulu. Tapi, sekarang Aku bahkan malas untuk belajar pelajaran favoritku ini. Sejak Aku tinggal dengan Ibu Aku mulai malas untuk belajar dan lebih memilih bersantai-santai saja seolah-olah tak ada masa depan yang sedang menantiku. Kadang terpikir dalam benakku mengapa Aku tak ikut Ayah? Mengapa harus ikut Ibu? Jika bukan karena Ibu memenangkan hak asuh anak di pengadilan maka hidupku pasti akan bahagia. Seandainya Aku bisa memilih hidup dengan siapa. Ayah, tahukah dirimu bahwa anakmu ini rindu sosokmu dalam hidup ini. Akhir-akhir ini Aku sering memikirkan tentang Ayah bahkan terlalu sering Aku memimpikannya. Aku selalu berpikir Ayah adalah yang terbaik Di bandingkan dengan Ibu. Ibu bukan lah apa-apa selain orang yang melahirkanku. Tapi Ayah adalah orang yang menafkahiku, melindungiku, menyayangiku, mengajariku banyak hal bahkan ia tak pernah memperdulikan dirinya demi anaknya.
Sepulangku dari sekolah Aku tak langsung ke rumah. Selalu ku sempatkan diriku untuk berjalan-jalan di sekitar pantai untuk melepaskan rasa gunda di hati ini. Pemandangan matahari yang akan terbenam membantuku melupakan semua masalah dan beban hidupku, walaupun hanya sesaat.
Sekarang
sudah menunjukkan pukul 18:34 Akupun bergegas pulang. Sesampainya di rumah
terlihat sosok orang yang sangat ku benci menunggu ku di teras rumah sederhana
miliknya. Ya Dia adalah Ibuku. “dari mana saja kamu sayang? Ibu Khawatir
memikirkanmu..” terlihat wajahnya yang legah melihat kehadiranku. “sudahlah,
tak perlu basa-basi kalau Ibu peduli padaku pasti Ibu takkan memilih jalan cerai
dengan Ayah!!” jawabku dengan suara agak ku tinggikan. “maafkan Ibu sayang..
bukan maksud Ibu mau memisahkanmu dari Ayahmu.. tapi Ibu tak sanggup di
selingkuhi sayang.. Ibu sangat menyayangimu..” entah mengapa kata-kata Ibu itu
membuatku semakin membencinya. Akupun meninggalkannya dan masuk ke dalam
kamarku.
Hari minggu akhirnya tiba. Seperti weekend biasanya Aku dan teman-temanku selalu menyempatkan diri untuk pergi berlibur di tempat-tempat wisata yang ada di sekitar kota Makassar. Kali ini kami berkumpul di rumahku dan memutuskan untuk berangkat ke Trans Studio Makassar. “Bu, Aku butuh uang 400 rb untuk pergi liburan weekend minggu ini..” “Ibu tak punya uang sebanyak itu Lily.. Ibu Hanya punya 200 rb..” jawabnya sambil memasang raut wajah sedih. Tapi entah mengapa bukannya Aku kasihan malah semakin membencinya. Raut wajahnya yang mulai kelihatan tua dan sedih itu sudah biasa ku lihat. Itu adalah pemandangan di rumahku setiap hari, setiap ku marah pada Ibu, tiap ku marah padanya. Bahkan kadang ku melihatnya menangis di hadapanku. Tapi Aku sama sekali tak kasihan padanya. Dia yang t’lah membuatku menderita maka dia yang harus bertanggung jawab atas apa yang t’lah ia lakukan padaku. “kenapa hanya 200 rb? Ibu kan tahu kalau setiap hari minggu Aku mau pergi berlibur!!” jawabku agak marah sampai-sampai teman-temanku mengintip ke dalam rumahku dan penasaran dengan apa yang terjadi di kamar Ibuku. “maafkan Ibu lily, Ibu hanya punya 200 rb saja..” jawabnya sambil meneteskan air mata. “kak sudahlah, buat apa kakak menghabiskan uang setiap hari minggu? Itu kan tidak berguna kak” tiba-tiba adikku Natalia masuk kedalam kamar Ibuku dan ikut membela Ibuku. “Tahu apa kamu.. kamu masih kecil tak usah ikut campur urusan kakak dan Ibu!!” jawabku agak mengertak adikku. “Aku sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang terjadi kak.. apa kakak tidak kasihan pada Ibu yang setiap hari mencari uang untuk kita. Seharusnya kakak membantu Ibu mencari uang bukan menghabiskan uang!!” adikku pun ikut marah. Tanpa sadar Aku pun menampar adikku dengan sangat keras dan ia pun berlari menuju ke kamarnya sambil menangis. Sejak peristiwa hari itu teman-temanku sudah tak mau mengajakku weekend bersama.
rasa benci yang setiap hari terus bertambah dalam membuatku membenci Ibuku. Namun, walaupun ku benci entah mengapa Ibuku tak pernah membenciku sedikitpun. Ibu bahkan selalu bersikap baik padaku. Ia sering menyruhku sholat 5 waktu, ia sering membuatkanku pisang goreng dan segelas susu apa bila Aku sedang bersantai di rumah. Dia bahkan selalu merapikan kamarku. Padahal Aku juga bisa merapikannya sendiri. Ia bahkan tak pernah lupa sekalipun untuk memberiku uang jajan dan menyiapkan kendaraanku setiap paginya.
2 tahun berlalu. Aku juga telah lulus dari SMA dan Ibu sekarang t’lah berhenti bekerja di kantornya karena sekarang Ibu mulai sakit-sakitan. Sekarang Ibu lebih memilih untuk membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Hal ini tentunya membuat penghasilan Ibu lebih kecil dan karena hal ini Aku tak dapat kuliah. Inilah kemarahan terbesarku pada Ibuku. “Aku benci Ibu!!” hanya itu yang dapat mengartikan seseorang yang bernama Ibu di pikiranku.
hari ini adalah hari reunian kecil-kecilan yang di adakan teman sekelasku yaitu Reni. Dan Aku juga sangat-sangat rindu dengan mereka, teman-temanku semasa SMA dulu. “Lily, pagi-pagi kok sudah cantik.. mau kemana Sayang?” Tanya Ibu yang wajahnya lebih tua dari biasanya. Rambutnya pun sudah mulai memutih menandakan ia tak muda lagi. “Itu bukan urusan Ibu.. Ibu masuk saja kekamar dan urusi urusan Ibu sendiri!” jawabku lagi-lagi dengan nada tak seperti berbicara dengan seorang Ibu melainkan berbicara dengan wanita yang hina. “Ibu boleh minta satu hal sama kamu sayang?” Tanya Ibu dengan raut wajah yang terlihat serius namun dengan senyuman yang hangat. “Aku lagi terburu-buru.. lain kali saja..” Akupun pergi meninggalkan Ibu dan adikku yang sedang menikmati liburan semesternya dirumah menemani Ibu yang sedang sakit. Sepanjang perjalanan Aku terus bertanya-tanya ada apa dengan Ibu? Sangat jarang ia meminta sesuatu padaku? Semakin jauh Aku dari rumah semakin gelisah perasaanku. Aku mencoba melupakannya dengan mendengarkan Lagu favoritku yaitu JKT 48. Sesampainya di rumah teman SMA ku itu Aku bertemu dengan wajah-wajah orang yang tak asing bagiku. Kami saling bercanda, tertawa dan bersenang-seenang. Sampai telepon genggamku berbunyi. Aku pun buru-buru mengambilnya dari dalam tasku. “ah, ternyata Ibu yang mencoba menghubungiku. Ini kan sudah jam 7 malam jadi sudah biasa Dia mencariku jam begini.” Ucapku dalam hati sambil menolak panggilan dari Ibuku. Tapi Ibu terus mencoba menghubungi teleponku. Aku pun mulai terganggu dengan hal ini, Aku pun menerimanya. Baru saja Aku mau mulai mengomeli Ibuku tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tak sing bagiku. Oh tidak paman Rudi. Mengapa Paman Rudi menghubungiku dengan telepon Ibuku? Sebuah pertanyaan yang langsung memenuhi benakku. dan Beberapa detik kemudian pertanyaan di benakku terjawab. Ternyata Ibuku Meninggal Dunia. Namun, tak seperti anak yang kehilangan orang tua biasanya Aku hanya terdiam lalu berangkat menuju rumah sakit di mana Ibuku berada. Sesampainya di rumah sakit untuk pertama kalinya Aku melihat wajah Ibu yang tertidur sangat nyenyak. Walaupun ku tahu ia telah tiada. Bukannya sedih Aku malah mencoba menguatkan adikku Natalia dan beberapa kerabat Ibuku. Sampai di tempat peristirahatannya yang terahir Aku bahkan tak meneteskan setetes air mata untuk Ibuku. Entah mengapa Aku berpikir air mataku tak perlu ku teteskan untuk seorang Ibu yang ku benci. Hanya ucapat selamat tinggal yang terucap dari mulutku.
Sore harinya Paman Rudi datang ke rumahku ditemani seorang pengacara yang membawa beberapa berkas-berkas penting. Ternyata itu adalah surat wasiat Ibu. Dan betapa terkejutnya Aku mendengar bahwa semua kekayaan Ibu yang bernilai 600 juta lebih di wariskan kepadaku seorang. Ternyata selama ini Ibu menyisipkan uangnya sedikit demi sedikit untuk membuat sebuah usaha restorant yang bisa di bilang cukup besar. Dan Ibu juga mewariskan butiknya yang berada di rumahku sendiri dan tabungan sebesar 250 jt untukku. Tiba-tiba dadaku sesak, mataku mulai tergenang air mata yang tak sanggup ku tahan saat membaca surat terakhir dari Ibuku yang berisikan:
“Untuk Anakku TerSayang, Lily Tatsumi
Maafkan Ibu harus meninggalkanmu di usia yang semudah ini.. Ibu sudah di panggil lebih dulu oleh Tuhan Sayang.. tapi kamu tak perlu khawatir, Ibu sudah menyiapkan sebaik-baik mungkin masa depanmu. Ibu sudah menyiapkan usaha yang Ibu percayakan kepada orang kepercayaan Ibu. Dan semoga usaha itu dapat membantumu memenuhi kebuTuhanmu Sayang.. maafkan Ibu lagi karena selama hidup Ibu tak sempat mengkuliahkanmu.. mungkin itu adalah kesalahan Ibu.. tapi Ibu akan mencoba memperbaiki kesalahan Ibu.. Ibu sudah menyisihkan uang Ibu sedikit demi sedikit.. walaupun jumlahnya tak sebanyak yang kamu inginkan tapi Ibu harap uang itu kamu pergunakan untuk kebutuhan kuliah kamu Sayangku.. kamu tak perlu meminta maaf kepada Ibu Sayang karena Ibu telah lama memaafkan kamu Sayang.. Ibu sadar kamu seperti ini karena Ibu.. kamu juga tak perlu berterima kasih pada Ibu.. karena sudah kewajiban Ibu untuk menjamin masa depanmu Sayang.. Ibu hanya minta jaga adikkmu Natalia Baik-baik.. dia adalah anak yang baik sama sepertimu.. hiduplah dengan apa yang kamu miliki sekarang dan jangan pernah mengeluh Sayang.. Ibu Menyayangi kalian..”
Aku hanya bisa menangis membaca surat terakhir dari Ibu. Teringat percakapan terakhirku dengan Ibu membuatku merasakan rasa penyesalan yang teramat dalam untuk ku. Akupun mulai menyayanginya. Namun, itu sudah terlambat, Ibu telah pergi ke sisi-Nya.
Hari-hari berikutnya aku hanya bisa terpaku di dalam kamarku merenungkan semua perlakuanku terhadap Ibuku. Aku berharap terbangun di pagi hari dan melihat wajahnya lagi. Tapi, Ibu takkan mungkin membangunkanku lagi. Aku berdiam diri di atas tempat tidurku dan berharap Ibu datang dan mengatakan “Air Panasnya sudah siap sayang”.Namun takkan lagi. Aku berjalan menuju ke ruang makan dan berharap ada Ibu dengan nasi gorengnya yang sering Ibu sajikan untukku dan Natalia di Pagi Hari. Namun, yang ku temukan adalah nasi goreng buatan adikku Natalia. Mungkin hanya Natalia yang tahu banyak tentang Ibu. Aku berangkat keluar rumah, entah akan kemana, Aku hanya ingin pulang dan di sambut oleh Ibu dengan raut wajah yang legah menyambut kepulanganku. Tapi, hanya ada pepohonan rindang yang menantiku di halaman rumahku. Aku mencoba tinggal bersantai di rumah berharap agar Aku masih dapat mencicipi pisang goreng dan segelas susu buatan ibu. Tapi waktu tak mungkin kembali. Aku mendirikan sholat 5 waktu dan berharap Ibu akan ada di sisiku untuk menemaniku. Namun, aku sadar ibu takkan lagi ada karena Ibu sudah tenang disisi-Nya. Aku benci dengan diriku sendiri. Aku benci atas apa yang telah ku perbuat terhadap Ibuku. “kak Lily, jangan bersedih.. kalau kakak menyayangi Ibu kakak harus mencoba bangkin dan menata masa depan kakak, itulah yang Ibu mau sekarang kak.. yakin dan percaya Tuhan maha melihat kak..” mendengar perkataan adikku, Akupun mulai mencoba berjalan keluar dari bayangan ibuku menuju masa depan. Kulaksanakan sholat dengan ihklas, mendaftar di salah satu universitas di Makassar dan mulai mengambil alih bisnis ibuku. Kepergian ibu membuat semuanya kembali pada tempatnya.
Hari minggu akhirnya tiba. Seperti weekend biasanya Aku dan teman-temanku selalu menyempatkan diri untuk pergi berlibur di tempat-tempat wisata yang ada di sekitar kota Makassar. Kali ini kami berkumpul di rumahku dan memutuskan untuk berangkat ke Trans Studio Makassar. “Bu, Aku butuh uang 400 rb untuk pergi liburan weekend minggu ini..” “Ibu tak punya uang sebanyak itu Lily.. Ibu Hanya punya 200 rb..” jawabnya sambil memasang raut wajah sedih. Tapi entah mengapa bukannya Aku kasihan malah semakin membencinya. Raut wajahnya yang mulai kelihatan tua dan sedih itu sudah biasa ku lihat. Itu adalah pemandangan di rumahku setiap hari, setiap ku marah pada Ibu, tiap ku marah padanya. Bahkan kadang ku melihatnya menangis di hadapanku. Tapi Aku sama sekali tak kasihan padanya. Dia yang t’lah membuatku menderita maka dia yang harus bertanggung jawab atas apa yang t’lah ia lakukan padaku. “kenapa hanya 200 rb? Ibu kan tahu kalau setiap hari minggu Aku mau pergi berlibur!!” jawabku agak marah sampai-sampai teman-temanku mengintip ke dalam rumahku dan penasaran dengan apa yang terjadi di kamar Ibuku. “maafkan Ibu lily, Ibu hanya punya 200 rb saja..” jawabnya sambil meneteskan air mata. “kak sudahlah, buat apa kakak menghabiskan uang setiap hari minggu? Itu kan tidak berguna kak” tiba-tiba adikku Natalia masuk kedalam kamar Ibuku dan ikut membela Ibuku. “Tahu apa kamu.. kamu masih kecil tak usah ikut campur urusan kakak dan Ibu!!” jawabku agak mengertak adikku. “Aku sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang terjadi kak.. apa kakak tidak kasihan pada Ibu yang setiap hari mencari uang untuk kita. Seharusnya kakak membantu Ibu mencari uang bukan menghabiskan uang!!” adikku pun ikut marah. Tanpa sadar Aku pun menampar adikku dengan sangat keras dan ia pun berlari menuju ke kamarnya sambil menangis. Sejak peristiwa hari itu teman-temanku sudah tak mau mengajakku weekend bersama.
rasa benci yang setiap hari terus bertambah dalam membuatku membenci Ibuku. Namun, walaupun ku benci entah mengapa Ibuku tak pernah membenciku sedikitpun. Ibu bahkan selalu bersikap baik padaku. Ia sering menyruhku sholat 5 waktu, ia sering membuatkanku pisang goreng dan segelas susu apa bila Aku sedang bersantai di rumah. Dia bahkan selalu merapikan kamarku. Padahal Aku juga bisa merapikannya sendiri. Ia bahkan tak pernah lupa sekalipun untuk memberiku uang jajan dan menyiapkan kendaraanku setiap paginya.
2 tahun berlalu. Aku juga telah lulus dari SMA dan Ibu sekarang t’lah berhenti bekerja di kantornya karena sekarang Ibu mulai sakit-sakitan. Sekarang Ibu lebih memilih untuk membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Hal ini tentunya membuat penghasilan Ibu lebih kecil dan karena hal ini Aku tak dapat kuliah. Inilah kemarahan terbesarku pada Ibuku. “Aku benci Ibu!!” hanya itu yang dapat mengartikan seseorang yang bernama Ibu di pikiranku.
hari ini adalah hari reunian kecil-kecilan yang di adakan teman sekelasku yaitu Reni. Dan Aku juga sangat-sangat rindu dengan mereka, teman-temanku semasa SMA dulu. “Lily, pagi-pagi kok sudah cantik.. mau kemana Sayang?” Tanya Ibu yang wajahnya lebih tua dari biasanya. Rambutnya pun sudah mulai memutih menandakan ia tak muda lagi. “Itu bukan urusan Ibu.. Ibu masuk saja kekamar dan urusi urusan Ibu sendiri!” jawabku lagi-lagi dengan nada tak seperti berbicara dengan seorang Ibu melainkan berbicara dengan wanita yang hina. “Ibu boleh minta satu hal sama kamu sayang?” Tanya Ibu dengan raut wajah yang terlihat serius namun dengan senyuman yang hangat. “Aku lagi terburu-buru.. lain kali saja..” Akupun pergi meninggalkan Ibu dan adikku yang sedang menikmati liburan semesternya dirumah menemani Ibu yang sedang sakit. Sepanjang perjalanan Aku terus bertanya-tanya ada apa dengan Ibu? Sangat jarang ia meminta sesuatu padaku? Semakin jauh Aku dari rumah semakin gelisah perasaanku. Aku mencoba melupakannya dengan mendengarkan Lagu favoritku yaitu JKT 48. Sesampainya di rumah teman SMA ku itu Aku bertemu dengan wajah-wajah orang yang tak asing bagiku. Kami saling bercanda, tertawa dan bersenang-seenang. Sampai telepon genggamku berbunyi. Aku pun buru-buru mengambilnya dari dalam tasku. “ah, ternyata Ibu yang mencoba menghubungiku. Ini kan sudah jam 7 malam jadi sudah biasa Dia mencariku jam begini.” Ucapku dalam hati sambil menolak panggilan dari Ibuku. Tapi Ibu terus mencoba menghubungi teleponku. Aku pun mulai terganggu dengan hal ini, Aku pun menerimanya. Baru saja Aku mau mulai mengomeli Ibuku tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tak sing bagiku. Oh tidak paman Rudi. Mengapa Paman Rudi menghubungiku dengan telepon Ibuku? Sebuah pertanyaan yang langsung memenuhi benakku. dan Beberapa detik kemudian pertanyaan di benakku terjawab. Ternyata Ibuku Meninggal Dunia. Namun, tak seperti anak yang kehilangan orang tua biasanya Aku hanya terdiam lalu berangkat menuju rumah sakit di mana Ibuku berada. Sesampainya di rumah sakit untuk pertama kalinya Aku melihat wajah Ibu yang tertidur sangat nyenyak. Walaupun ku tahu ia telah tiada. Bukannya sedih Aku malah mencoba menguatkan adikku Natalia dan beberapa kerabat Ibuku. Sampai di tempat peristirahatannya yang terahir Aku bahkan tak meneteskan setetes air mata untuk Ibuku. Entah mengapa Aku berpikir air mataku tak perlu ku teteskan untuk seorang Ibu yang ku benci. Hanya ucapat selamat tinggal yang terucap dari mulutku.
Sore harinya Paman Rudi datang ke rumahku ditemani seorang pengacara yang membawa beberapa berkas-berkas penting. Ternyata itu adalah surat wasiat Ibu. Dan betapa terkejutnya Aku mendengar bahwa semua kekayaan Ibu yang bernilai 600 juta lebih di wariskan kepadaku seorang. Ternyata selama ini Ibu menyisipkan uangnya sedikit demi sedikit untuk membuat sebuah usaha restorant yang bisa di bilang cukup besar. Dan Ibu juga mewariskan butiknya yang berada di rumahku sendiri dan tabungan sebesar 250 jt untukku. Tiba-tiba dadaku sesak, mataku mulai tergenang air mata yang tak sanggup ku tahan saat membaca surat terakhir dari Ibuku yang berisikan:
“Untuk Anakku TerSayang, Lily Tatsumi
Maafkan Ibu harus meninggalkanmu di usia yang semudah ini.. Ibu sudah di panggil lebih dulu oleh Tuhan Sayang.. tapi kamu tak perlu khawatir, Ibu sudah menyiapkan sebaik-baik mungkin masa depanmu. Ibu sudah menyiapkan usaha yang Ibu percayakan kepada orang kepercayaan Ibu. Dan semoga usaha itu dapat membantumu memenuhi kebuTuhanmu Sayang.. maafkan Ibu lagi karena selama hidup Ibu tak sempat mengkuliahkanmu.. mungkin itu adalah kesalahan Ibu.. tapi Ibu akan mencoba memperbaiki kesalahan Ibu.. Ibu sudah menyisihkan uang Ibu sedikit demi sedikit.. walaupun jumlahnya tak sebanyak yang kamu inginkan tapi Ibu harap uang itu kamu pergunakan untuk kebutuhan kuliah kamu Sayangku.. kamu tak perlu meminta maaf kepada Ibu Sayang karena Ibu telah lama memaafkan kamu Sayang.. Ibu sadar kamu seperti ini karena Ibu.. kamu juga tak perlu berterima kasih pada Ibu.. karena sudah kewajiban Ibu untuk menjamin masa depanmu Sayang.. Ibu hanya minta jaga adikkmu Natalia Baik-baik.. dia adalah anak yang baik sama sepertimu.. hiduplah dengan apa yang kamu miliki sekarang dan jangan pernah mengeluh Sayang.. Ibu Menyayangi kalian..”
Aku hanya bisa menangis membaca surat terakhir dari Ibu. Teringat percakapan terakhirku dengan Ibu membuatku merasakan rasa penyesalan yang teramat dalam untuk ku. Akupun mulai menyayanginya. Namun, itu sudah terlambat, Ibu telah pergi ke sisi-Nya.
Hari-hari berikutnya aku hanya bisa terpaku di dalam kamarku merenungkan semua perlakuanku terhadap Ibuku. Aku berharap terbangun di pagi hari dan melihat wajahnya lagi. Tapi, Ibu takkan mungkin membangunkanku lagi. Aku berdiam diri di atas tempat tidurku dan berharap Ibu datang dan mengatakan “Air Panasnya sudah siap sayang”.Namun takkan lagi. Aku berjalan menuju ke ruang makan dan berharap ada Ibu dengan nasi gorengnya yang sering Ibu sajikan untukku dan Natalia di Pagi Hari. Namun, yang ku temukan adalah nasi goreng buatan adikku Natalia. Mungkin hanya Natalia yang tahu banyak tentang Ibu. Aku berangkat keluar rumah, entah akan kemana, Aku hanya ingin pulang dan di sambut oleh Ibu dengan raut wajah yang legah menyambut kepulanganku. Tapi, hanya ada pepohonan rindang yang menantiku di halaman rumahku. Aku mencoba tinggal bersantai di rumah berharap agar Aku masih dapat mencicipi pisang goreng dan segelas susu buatan ibu. Tapi waktu tak mungkin kembali. Aku mendirikan sholat 5 waktu dan berharap Ibu akan ada di sisiku untuk menemaniku. Namun, aku sadar ibu takkan lagi ada karena Ibu sudah tenang disisi-Nya. Aku benci dengan diriku sendiri. Aku benci atas apa yang telah ku perbuat terhadap Ibuku. “kak Lily, jangan bersedih.. kalau kakak menyayangi Ibu kakak harus mencoba bangkin dan menata masa depan kakak, itulah yang Ibu mau sekarang kak.. yakin dan percaya Tuhan maha melihat kak..” mendengar perkataan adikku, Akupun mulai mencoba berjalan keluar dari bayangan ibuku menuju masa depan. Kulaksanakan sholat dengan ihklas, mendaftar di salah satu universitas di Makassar dan mulai mengambil alih bisnis ibuku. Kepergian ibu membuat semuanya kembali pada tempatnya.
The
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar