Jumat, 17 Januari 2014

My Cerpen ^_^



Kasih Sayang Ibu
            Di pagi hari Ibu membangunkanku di saat Aku masih ingin terlelap dengan nyenyaknya. Kemudian ia bergegas menuju ke dapur untuk mengambilkan air yang sudah ia panaskan untuk ku pakai mandi. Ibu benar-benar tahu kalau Aku tidak suka mandi air dingin. Seusai mandi Aku pun berjalan ke meja makan untuk menyantap sarapan dengan adikku yang bernama Natalia. Namun, di pagi itu Ibu terlambat menyajikan sarapan di meja makan. “Bu, sarapannya jangan lama-lama. Aku bisa terlambat ke sekolah..” kataku pada Ibuku yang mungkin berusia 52 tahun. Aku tak pernah tahu pasti usia Ibuku karena Aku membenci Ibuku. Ibuku memilih bercerai dengan Ayahku karena menurut Ibuku Ayahku t’lah berselingkuh dengan wanita lain. Tapi karena perceraian itulah Aku membenci Ibuku. Sejak mereka bercerai hidupku mulai hancur. Aku merasa serba kekurangan. Kekurangan kasih Sayang orang tua, kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupku, dan masih banyak lagi. Padahal dulu sebelum mereka bercerai hidupku terasa amat indah. Semua serba berkecukupan. Walaupun sekarang Ibu yang menggantikan posisi Ayah sebagai tulang punggung keluarga itu masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolahku. Aku sangat membenci Ibu.
            setelah sarapan Akupun berangkat menuju ke sekolah dengan mengendarai motor matic kesayanganku. Perjalanan sejauh 8 km ku tempuh dalam waktu 25 menit saja. Sesampaunya di sekolah Aku langsung menuju ke ruang kelasku. Tiba-tiba, “Lily??” sapa salah seorang teman kelasku yang sering menjajahkan barang dagangannya kepada siswi di SMAku. “Iya, ada apa? Ada barang baru lagi ya?” jawabku penasaran. “Iya, ini kosmetik pemutih terbaru di jamin oke..” tawarnya sambil menunjukkan barang dagangannya. “tidak, trima kasih.. Aku kan sudah putih untuk apa menggunakan pemutih??” jawabku bercanda. “Bilang saja kalau kamu tidak punya uang.. tidak perlu sok keputihan..” ejeknya padaku. Tapi memang betul sejak perceraian orang tua ku Aku sudah jarang membeli produk temanku ini. Padahal dulu Aku adalah langganannya yang setia. “ah.. kenapa ini harus menimpaku?? Katanya Tuhan itu adil kenapa Tuhan membuatku menderita seperti ini.. itu kan tak adil..” kataku dalam hati.
             Jam pelajaran pertama di mulai. Hari ini Aku belajar mate-matika pelajaran favoritku dulu. Tapi, sekarang Aku bahkan malas untuk belajar pelajaran favoritku ini. Sejak Aku tinggal dengan Ibu Aku mulai malas untuk belajar dan lebih memilih bersantai-santai saja seolah-olah tak ada masa depan yang sedang menantiku. Kadang terpikir dalam benakku mengapa Aku tak ikut Ayah? Mengapa harus ikut Ibu? Jika bukan karena Ibu memenangkan hak asuh anak di pengadilan maka hidupku pasti akan bahagia. Seandainya Aku bisa memilih hidup dengan siapa. Ayah, tahukah dirimu bahwa anakmu ini rindu sosokmu dalam hidup ini. Akhir-akhir ini Aku sering memikirkan tentang Ayah bahkan terlalu sering Aku memimpikannya. Aku selalu berpikir Ayah adalah yang terbaik Di bandingkan dengan Ibu. Ibu bukan lah apa-apa selain orang yang melahirkanku. Tapi Ayah adalah orang yang menafkahiku, melindungiku, menyayangiku, mengajariku banyak hal bahkan ia tak pernah memperdulikan dirinya demi anaknya.
             Sepulangku dari sekolah Aku tak langsung ke rumah. Selalu ku sempatkan diriku untuk berjalan-jalan di sekitar pantai untuk melepaskan rasa gunda di hati ini. Pemandangan matahari yang akan terbenam membantuku melupakan semua masalah dan beban hidupku, walaupun hanya sesaat.
            Sekarang sudah menunjukkan pukul 18:34 Akupun bergegas pulang. Sesampainya di rumah terlihat sosok orang yang sangat ku benci menunggu ku di teras rumah sederhana miliknya. Ya Dia adalah Ibuku. “dari mana saja kamu sayang? Ibu Khawatir memikirkanmu..” terlihat wajahnya yang legah melihat kehadiranku. “sudahlah, tak perlu basa-basi kalau Ibu peduli padaku pasti Ibu takkan memilih jalan cerai dengan Ayah!!” jawabku dengan suara agak ku tinggikan. “maafkan Ibu sayang.. bukan maksud Ibu mau memisahkanmu dari Ayahmu.. tapi Ibu tak sanggup di selingkuhi sayang.. Ibu sangat menyayangimu..” entah mengapa kata-kata Ibu itu membuatku semakin membencinya. Akupun meninggalkannya dan masuk ke dalam kamarku.
            Hari minggu akhirnya tiba. Seperti weekend biasanya Aku dan teman-temanku selalu menyempatkan diri untuk pergi berlibur di tempat-tempat wisata yang ada di sekitar kota Makassar. Kali ini kami berkumpul di rumahku dan memutuskan untuk berangkat ke Trans Studio Makassar. “Bu, Aku butuh uang 400 rb untuk pergi liburan weekend minggu ini..” “Ibu tak punya uang sebanyak itu Lily.. Ibu Hanya punya 200 rb..” jawabnya sambil memasang raut wajah sedih. Tapi entah mengapa bukannya Aku kasihan malah semakin membencinya. Raut wajahnya yang mulai kelihatan tua dan sedih itu sudah biasa ku lihat. Itu adalah pemandangan di rumahku setiap hari, setiap ku marah pada Ibu, tiap ku marah padanya. Bahkan kadang ku melihatnya menangis di hadapanku. Tapi Aku sama sekali tak kasihan padanya. Dia yang t’lah membuatku menderita maka dia yang harus bertanggung jawab atas apa yang t’lah ia lakukan padaku. “kenapa hanya 200 rb? Ibu kan tahu kalau setiap hari minggu Aku mau pergi berlibur!!” jawabku agak marah sampai-sampai teman-temanku mengintip ke dalam rumahku dan penasaran dengan apa yang terjadi di kamar Ibuku. “maafkan Ibu lily, Ibu hanya punya 200 rb saja..” jawabnya sambil meneteskan air mata. “kak sudahlah, buat apa kakak menghabiskan uang setiap hari minggu? Itu kan tidak berguna kak” tiba-tiba adikku Natalia masuk kedalam kamar Ibuku dan ikut membela Ibuku. “Tahu apa kamu.. kamu masih kecil tak usah ikut campur urusan kakak dan Ibu!!” jawabku agak mengertak adikku. “Aku sudah cukup dewasa untuk memahami apa yang terjadi kak.. apa kakak tidak kasihan pada Ibu yang setiap hari mencari uang untuk kita. Seharusnya kakak membantu Ibu mencari uang bukan menghabiskan uang!!” adikku pun ikut marah. Tanpa sadar Aku pun menampar adikku dengan sangat keras dan ia pun berlari menuju ke kamarnya sambil menangis. Sejak peristiwa hari itu teman-temanku sudah tak mau mengajakku weekend bersama.
            rasa benci yang setiap hari terus bertambah dalam membuatku membenci Ibuku. Namun, walaupun ku benci entah mengapa Ibuku tak pernah membenciku sedikitpun. Ibu bahkan selalu bersikap baik padaku. Ia sering menyruhku sholat 5 waktu, ia sering membuatkanku pisang goreng dan segelas susu apa bila Aku sedang bersantai di rumah. Dia bahkan selalu merapikan kamarku. Padahal Aku juga bisa merapikannya sendiri. Ia bahkan tak pernah lupa sekalipun untuk memberiku uang jajan dan menyiapkan kendaraanku setiap paginya.
            2 tahun berlalu. Aku juga telah lulus dari SMA dan Ibu sekarang t’lah berhenti bekerja di kantornya karena sekarang Ibu mulai sakit-sakitan. Sekarang  Ibu lebih memilih untuk membuka usaha kecil-kecilan di rumah. Hal ini tentunya membuat penghasilan Ibu lebih kecil dan karena hal ini Aku tak dapat kuliah. Inilah kemarahan terbesarku pada Ibuku. “Aku benci Ibu!!” hanya itu yang dapat mengartikan seseorang yang bernama Ibu di pikiranku.
            hari ini adalah hari reunian kecil-kecilan yang di adakan teman sekelasku yaitu Reni. Dan Aku juga sangat-sangat rindu dengan mereka, teman-temanku semasa SMA dulu. “Lily, pagi-pagi kok sudah cantik.. mau kemana Sayang?” Tanya Ibu yang wajahnya lebih tua dari biasanya. Rambutnya pun sudah mulai memutih menandakan ia tak muda lagi. “Itu bukan urusan Ibu.. Ibu masuk saja kekamar dan urusi urusan Ibu sendiri!” jawabku lagi-lagi dengan nada tak seperti berbicara dengan seorang Ibu melainkan berbicara dengan wanita yang hina. “Ibu boleh minta satu hal sama kamu sayang?” Tanya Ibu dengan raut wajah yang terlihat serius namun dengan senyuman yang hangat. “Aku lagi terburu-buru.. lain kali saja..” Akupun pergi meninggalkan Ibu dan adikku yang sedang menikmati liburan semesternya dirumah menemani Ibu yang sedang sakit. Sepanjang perjalanan Aku terus bertanya-tanya ada apa dengan Ibu? Sangat jarang ia meminta sesuatu padaku? Semakin jauh Aku dari rumah semakin gelisah perasaanku. Aku mencoba melupakannya dengan mendengarkan Lagu favoritku yaitu  JKT 48. Sesampainya di rumah teman SMA ku itu Aku bertemu dengan wajah-wajah orang yang tak asing bagiku. Kami saling bercanda, tertawa dan bersenang-seenang. Sampai telepon genggamku berbunyi. Aku pun buru-buru mengambilnya dari dalam tasku. “ah, ternyata Ibu yang mencoba menghubungiku. Ini kan sudah jam 7 malam jadi sudah biasa Dia mencariku jam begini.” Ucapku dalam hati sambil menolak panggilan dari Ibuku. Tapi Ibu terus mencoba menghubungi teleponku. Aku pun mulai terganggu dengan hal ini, Aku pun menerimanya. Baru saja Aku mau mulai mengomeli Ibuku tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang tak sing bagiku. Oh tidak paman Rudi. Mengapa Paman Rudi menghubungiku dengan telepon Ibuku? Sebuah pertanyaan yang langsung memenuhi benakku. dan Beberapa detik kemudian pertanyaan di benakku terjawab. Ternyata Ibuku Meninggal Dunia. Namun, tak seperti anak yang kehilangan orang tua biasanya Aku hanya terdiam lalu berangkat menuju rumah sakit di mana Ibuku berada. Sesampainya di rumah sakit untuk pertama kalinya Aku melihat wajah Ibu yang tertidur sangat nyenyak. Walaupun ku tahu ia telah tiada. Bukannya sedih Aku malah mencoba menguatkan adikku Natalia dan beberapa kerabat Ibuku. Sampai di tempat peristirahatannya yang terahir Aku bahkan tak meneteskan setetes air mata untuk Ibuku. Entah mengapa Aku berpikir air mataku tak perlu ku teteskan untuk seorang Ibu yang ku benci. Hanya ucapat selamat tinggal yang terucap dari mulutku.
            Sore harinya Paman Rudi datang ke rumahku ditemani seorang pengacara yang membawa beberapa berkas-berkas penting. Ternyata itu adalah surat wasiat Ibu. Dan betapa terkejutnya Aku mendengar bahwa semua kekayaan Ibu yang bernilai 600 juta lebih di wariskan kepadaku seorang. Ternyata selama ini Ibu menyisipkan uangnya sedikit demi sedikit untuk membuat sebuah usaha restorant yang bisa di bilang cukup besar. Dan Ibu juga mewariskan butiknya yang berada di rumahku sendiri dan tabungan sebesar 250 jt untukku. Tiba-tiba dadaku sesak, mataku mulai tergenang air mata yang tak sanggup ku tahan saat membaca surat terakhir dari Ibuku yang berisikan:
“Untuk Anakku TerSayang, Lily Tatsumi
            Maafkan Ibu harus meninggalkanmu di usia yang semudah ini.. Ibu sudah di panggil lebih dulu oleh Tuhan Sayang.. tapi kamu tak perlu khawatir, Ibu sudah menyiapkan sebaik-baik mungkin masa depanmu. Ibu sudah menyiapkan usaha yang Ibu percayakan kepada orang kepercayaan Ibu. Dan semoga usaha itu dapat membantumu memenuhi kebuTuhanmu Sayang.. maafkan Ibu lagi karena selama hidup Ibu tak sempat mengkuliahkanmu.. mungkin itu adalah kesalahan Ibu.. tapi Ibu akan mencoba memperbaiki kesalahan Ibu.. Ibu sudah menyisihkan uang Ibu sedikit demi sedikit.. walaupun  jumlahnya tak sebanyak yang kamu inginkan tapi Ibu harap uang itu kamu pergunakan untuk kebutuhan kuliah kamu Sayangku.. kamu tak perlu meminta maaf kepada Ibu Sayang karena Ibu telah lama memaafkan kamu Sayang.. Ibu sadar kamu seperti ini karena Ibu.. kamu juga tak perlu berterima kasih pada Ibu.. karena sudah kewajiban Ibu untuk menjamin masa depanmu Sayang.. Ibu hanya minta jaga adikkmu Natalia Baik-baik.. dia adalah anak yang baik sama sepertimu.. hiduplah dengan apa yang kamu miliki sekarang dan jangan pernah mengeluh Sayang.. Ibu Menyayangi kalian..”

Aku hanya bisa menangis membaca surat terakhir dari Ibu. Teringat percakapan terakhirku dengan Ibu membuatku merasakan rasa penyesalan yang teramat dalam untuk ku. Akupun mulai menyayanginya. Namun, itu sudah terlambat, Ibu telah pergi ke sisi-Nya.
            Hari-hari berikutnya aku hanya bisa terpaku di dalam kamarku merenungkan semua perlakuanku terhadap Ibuku. Aku berharap terbangun di pagi hari dan melihat wajahnya lagi. Tapi, Ibu takkan mungkin membangunkanku lagi. Aku berdiam diri di atas tempat tidurku dan berharap Ibu datang dan mengatakan “Air Panasnya sudah siap sayang”.Namun takkan lagi. Aku berjalan menuju ke ruang makan dan berharap ada Ibu dengan nasi gorengnya yang sering Ibu sajikan untukku dan Natalia di Pagi Hari. Namun, yang ku temukan adalah nasi goreng buatan adikku Natalia. Mungkin hanya Natalia yang tahu banyak tentang Ibu. Aku berangkat keluar rumah, entah akan kemana, Aku hanya ingin pulang dan di sambut oleh Ibu dengan raut wajah yang legah menyambut kepulanganku. Tapi, hanya ada pepohonan rindang yang menantiku di halaman rumahku. Aku mencoba tinggal bersantai di rumah berharap agar Aku masih dapat mencicipi pisang goreng dan segelas susu buatan ibu. Tapi waktu tak mungkin kembali. Aku mendirikan sholat 5 waktu dan berharap Ibu akan ada di sisiku untuk menemaniku. Namun, aku sadar ibu takkan lagi ada karena Ibu sudah tenang disisi-Nya. Aku benci dengan diriku sendiri. Aku benci atas apa yang telah ku perbuat terhadap Ibuku. “kak Lily, jangan bersedih.. kalau kakak menyayangi Ibu kakak harus mencoba bangkin dan menata masa depan kakak, itulah yang Ibu mau sekarang kak.. yakin dan percaya Tuhan maha melihat kak..” mendengar perkataan adikku, Akupun mulai mencoba berjalan keluar dari bayangan ibuku menuju masa depan. Kulaksanakan sholat dengan ihklas, mendaftar di salah satu universitas di Makassar dan mulai mengambil alih bisnis ibuku. Kepergian ibu membuat semuanya kembali pada tempatnya.

                           The End

Jumat, 29 November 2013

Dirimu yang Satu


 
Andai kau tahu
Apa isi hatiku ini ?
Apa yang ku rasakan saat ini ?

Jika kau bisa merasakan
Ku mohon... balas rasa ini !
Ku mohon ungkapkan rasa yang ada di hati mu !

Andai kau  tahu...
Hanya dirimulah yang ada di hati..
Hanya nama mu yang terukir di jiwa ..
Hanya wajah mu yag ada di bayangan ku...

Dirimu yang satu ...
Telah menebar cinta di hatiku
Telah membagi rasa indah di hati
Walau hanya aku yang merasakan

Cinta itu timbul ...
Saat ku lihat dirimu
Dan tiba-tiba saja rasa itu timbul
Di hati ku.......karna hanya dirimu di hati ...

Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua ---Mungkin sebagian dari kamu pernah merasakan hal ini. Rasa gunda dan kecewa serta merta menerpa manakala hubungan percintaan yang selama ini telah dipupuk bersama harus berakhir karena terhalang perjodohan orang tua. Keinginan orang tua yang selalu dilandasi harapan agar sang anak bisa bahagia, selalu di jadikan alasan perjodohan. Sayangnya, hanya sedikit orang tua yang mampu memahami perasaan sang anak tentang arti kebahagiaan itu sendiri. Lalu, siapakah yang paling pantas disalahkan Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua?
Ketika hubungan percintaan harus berakhir akibat perjodohan orang tua, maka pihak yang paling disalahkan dalam hal ini adalah orang tua itu sendiri. Bagi sang anak, orang tua hampir tidak ada bedanya dengan diktator yang memaksakan kehendak dengan retorika kebenaran dan harapan yang hanya dipahami oleh mereka. Si anak sepertinya tidak diberi kesempatan untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya. walhasil, hubungan percintaan yang selama ini dijalani, harus berakhir dan meninggalkan secarik kenangan (semoga saja kenangan indah) hanya karena perjodohan orang tua.

Bagi pasangan yang bijak dan matang, menyalahkan keputusan orang tua tentang perjodohan bukanlah hal yang pantas dilakukan. Karena orang tua memang berhak dan berkewajiban untuk memutuskan dan merestui hubungan percintaan sang anak ketika itu sudah memasuki jenjang pernikahan. Orang tua tentunya ingin yang terbaik bagi anaknya dalam menjalani biduk rumah tangga. Permasalah utamanya justru terletak pada kamu dan pasangan ketika menjalani hubungan percintaan itu sendiri.

Ketika kamu mengatakan bahwa orang tua sama sekali tidak mengerti apa yang terbaik bagimu, apa dan siapa yang bisa membuatmu bahagia, harusnya ada sedikit pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri sebelum men-judge keputusan perjodohan orang tua. Seberapa besar usahamu selama ini dalam memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa ini yang terbaik bagimu, ini yang bisa membuatmu bahagia? Pernakah kamu memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa si dia adalah yang terbaik bagimu dan akan membuatmu bahagia?

Orang tua hanya bisa memandang dari sisi yang bisa mereka lihat dan mereka rasakan. Ketika mereka melihat kamu dan pasangan sesuai dengan yang mereka inginkan, maka restu orang tua pasti akan menghampiri kalian. Begitu juga jika mereka merasakan ada yang lebih baik bagi kamu di bandingkan si dia, maka orang tua akan memutuskan bahwa si dia tidak pantas untukmu, karena ada yang lebih baik dari itu.

Satu hal yang mesti kamu ingat sebagai anak, apapun keputusan orang tua selalu dilandasi keinginan akan yang terbaik bagimu, bukan untuk menghancurkanmu. Pun jika keputusan itu tidak sesuai seperti yang kamu inginkan, itu semua karena kurangnya usaha kamu dan pasangan untuk meyakinkan orang tua bahwa kalian bahagia bersama. Dan hanya si dia yang bisa membahagiakan dirimu. Permasalahannya, apa yang bisa dilakukan jika perjodohan orang tua itu sudah diputuskan?

Baik perjodohan orang tua itu masih rencana atatupun sudah diputuskan, hal itu bukan akhir dari segalanya. Masih ada waktu untukmu berbenah. Tunjukkan dan buktikan kepada orang tua bahwa kalian adalah pasangan yang terbaik dan berbahagia. Yakinkan mereka akan hal itu. Ingat! usaha ini hanya bisa kamu lakukan jika cinta yang kamu jalani selama ini memang benar-benar cinta sejati. Orang tua akan merubah keputusan mereka jika apa yang mereka lihat dan mereka rasakan nantinya sesuai dengan apa yang kamu tunjukkan dan kamu yakinkan kepada mereka.

Hubungan percintaan mungkin saja akan hancur Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua. Namun bagi pasangan yang matang dan benar-benar memiliki cinta sejati, maka cinta itu sendiri akan abadi dan tidak akan hancur sampai kapanpun. Dan untuk menyatukan cinta sejati itu dari hubungan percintaan menjadi hubungan perkawinan, semua tergantung usahamu dan si dia untuk mewujudkannya.

Akhirnya, tanyakan lagi ke hatimu, benarkah si dia adalah satu-satunya cinta untukmu? Jika iya, maka bersatulah untuk menyatukannya. Perjodohan orang tua bukanlah sesuatu yang besar bagi setiap pasangan yang memiliki cinta yang besar. Ia hanyalah sebentuk kerikil tumpul yang bisa kamu lewati tanpa luka dengan kekuatan cinta. Karena kekuatan cinta itu di ukur dari seberapa besar usahamu untuk merengkuhnya, bukan menangisinya ketika ia hilang.
- See more at: http://dbecinta.blogspot.com/2013/10/ketika-cinta-terhalang-perjodohan-orang-tua.html#sthash.Sld7gOYH.dpuf
Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua ---Mungkin sebagian dari kamu pernah merasakan hal ini. Rasa gunda dan kecewa serta merta menerpa manakala hubungan percintaan yang selama ini telah dipupuk bersama harus berakhir karena terhalang perjodohan orang tua. Keinginan orang tua yang selalu dilandasi harapan agar sang anak bisa bahagia, selalu di jadikan alasan perjodohan. Sayangnya, hanya sedikit orang tua yang mampu memahami perasaan sang anak tentang arti kebahagiaan itu sendiri. Lalu, siapakah yang paling pantas disalahkan Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua?
Ketika hubungan percintaan harus berakhir akibat perjodohan orang tua, maka pihak yang paling disalahkan dalam hal ini adalah orang tua itu sendiri. Bagi sang anak, orang tua hampir tidak ada bedanya dengan diktator yang memaksakan kehendak dengan retorika kebenaran dan harapan yang hanya dipahami oleh mereka. Si anak sepertinya tidak diberi kesempatan untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya. walhasil, hubungan percintaan yang selama ini dijalani, harus berakhir dan meninggalkan secarik kenangan (semoga saja kenangan indah) hanya karena perjodohan orang tua.

Bagi pasangan yang bijak dan matang, menyalahkan keputusan orang tua tentang perjodohan bukanlah hal yang pantas dilakukan. Karena orang tua memang berhak dan berkewajiban untuk memutuskan dan merestui hubungan percintaan sang anak ketika itu sudah memasuki jenjang pernikahan. Orang tua tentunya ingin yang terbaik bagi anaknya dalam menjalani biduk rumah tangga. Permasalah utamanya justru terletak pada kamu dan pasangan ketika menjalani hubungan percintaan itu sendiri.

Ketika kamu mengatakan bahwa orang tua sama sekali tidak mengerti apa yang terbaik bagimu, apa dan siapa yang bisa membuatmu bahagia, harusnya ada sedikit pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri sebelum men-judge keputusan perjodohan orang tua. Seberapa besar usahamu selama ini dalam memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa ini yang terbaik bagimu, ini yang bisa membuatmu bahagia? Pernakah kamu memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa si dia adalah yang terbaik bagimu dan akan membuatmu bahagia?

Orang tua hanya bisa memandang dari sisi yang bisa mereka lihat dan mereka rasakan. Ketika mereka melihat kamu dan pasangan sesuai dengan yang mereka inginkan, maka restu orang tua pasti akan menghampiri kalian. Begitu juga jika mereka merasakan ada yang lebih baik bagi kamu di bandingkan si dia, maka orang tua akan memutuskan bahwa si dia tidak pantas untukmu, karena ada yang lebih baik dari itu.

Satu hal yang mesti kamu ingat sebagai anak, apapun keputusan orang tua selalu dilandasi keinginan akan yang terbaik bagimu, bukan untuk menghancurkanmu. Pun jika keputusan itu tidak sesuai seperti yang kamu inginkan, itu semua karena kurangnya usaha kamu dan pasangan untuk meyakinkan orang tua bahwa kalian bahagia bersama. Dan hanya si dia yang bisa membahagiakan dirimu. Permasalahannya, apa yang bisa dilakukan jika perjodohan orang tua itu sudah diputuskan?

Baik perjodohan orang tua itu masih rencana atatupun sudah diputuskan, hal itu bukan akhir dari segalanya. Masih ada waktu untukmu berbenah. Tunjukkan dan buktikan kepada orang tua bahwa kalian adalah pasangan yang terbaik dan berbahagia. Yakinkan mereka akan hal itu. Ingat! usaha ini hanya bisa kamu lakukan jika cinta yang kamu jalani selama ini memang benar-benar cinta sejati. Orang tua akan merubah keputusan mereka jika apa yang mereka lihat dan mereka rasakan nantinya sesuai dengan apa yang kamu tunjukkan dan kamu yakinkan kepada mereka.

Hubungan percintaan mungkin saja akan hancur Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua. Namun bagi pasangan yang matang dan benar-benar memiliki cinta sejati, maka cinta itu sendiri akan abadi dan tidak akan hancur sampai kapanpun. Dan untuk menyatukan cinta sejati itu dari hubungan percintaan menjadi hubungan perkawinan, semua tergantung usahamu dan si dia untuk mewujudkannya.

Akhirnya, tanyakan lagi ke hatimu, benarkah si dia adalah satu-satunya cinta untukmu? Jika iya, maka bersatulah untuk menyatukannya. Perjodohan orang tua bukanlah sesuatu yang besar bagi setiap pasangan yang memiliki cinta yang besar. Ia hanyalah sebentuk kerikil tumpul yang bisa kamu lewati tanpa luka dengan kekuatan cinta. Karena kekuatan cinta itu di ukur dari seberapa besar usahamu untuk merengkuhnya, bukan menangisinya ketika ia hilang.
- See more at: http://dbecinta.blogspot.com/2013/10/ketika-cinta-terhalang-perjodohan-orang-tua.html#sthash.Sld7gOYH.dpuf

Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua ---Mungkin sebagian dari kamu pernah merasakan hal ini. Rasa gunda dan kecewa serta merta menerpa manakala hubungan percintaan yang selama ini telah dipupuk bersama harus berakhir karena terhalang perjodohan orang tua. Keinginan orang tua yang selalu dilandasi harapan agar sang anak bisa bahagia, selalu di jadikan alasan perjodohan. Sayangnya, hanya sedikit orang tua yang mampu memahami perasaan sang anak tentang arti kebahagiaan itu sendiri. Lalu, siapakah yang paling pantas disalahkan Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua?
Ketika hubungan percintaan harus berakhir akibat perjodohan orang tua, maka pihak yang paling disalahkan dalam hal ini adalah orang tua itu sendiri. Bagi sang anak, orang tua hampir tidak ada bedanya dengan diktator yang memaksakan kehendak dengan retorika kebenaran dan harapan yang hanya dipahami oleh mereka. Si anak sepertinya tidak diberi kesempatan untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya. walhasil, hubungan percintaan yang selama ini dijalani, harus berakhir dan meninggalkan secarik kenangan (semoga saja kenangan indah) hanya karena perjodohan orang tua.

Bagi pasangan yang bijak dan matang, menyalahkan keputusan orang tua tentang perjodohan bukanlah hal yang pantas dilakukan. Karena orang tua memang berhak dan berkewajiban untuk memutuskan dan merestui hubungan percintaan sang anak ketika itu sudah memasuki jenjang pernikahan. Orang tua tentunya ingin yang terbaik bagi anaknya dalam menjalani biduk rumah tangga. Permasalah utamanya justru terletak pada kamu dan pasangan ketika menjalani hubungan percintaan itu sendiri.

Ketika kamu mengatakan bahwa orang tua sama sekali tidak mengerti apa yang terbaik bagimu, apa dan siapa yang bisa membuatmu bahagia, harusnya ada sedikit pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri sebelum men-judge keputusan perjodohan orang tua. Seberapa besar usahamu selama ini dalam memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa ini yang terbaik bagimu, ini yang bisa membuatmu bahagia? Pernakah kamu memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa si dia adalah yang terbaik bagimu dan akan membuatmu bahagia?

Orang tua hanya bisa memandang dari sisi yang bisa mereka lihat dan mereka rasakan. Ketika mereka melihat kamu dan pasangan sesuai dengan yang mereka inginkan, maka restu orang tua pasti akan menghampiri kalian. Begitu juga jika mereka merasakan ada yang lebih baik bagi kamu di bandingkan si dia, maka orang tua akan memutuskan bahwa si dia tidak pantas untukmu, karena ada yang lebih baik dari itu.

Satu hal yang mesti kamu ingat sebagai anak, apapun keputusan orang tua selalu dilandasi keinginan akan yang terbaik bagimu, bukan untuk menghancurkanmu. Pun jika keputusan itu tidak sesuai seperti yang kamu inginkan, itu semua karena kurangnya usaha kamu dan pasangan untuk meyakinkan orang tua bahwa kalian bahagia bersama. Dan hanya si dia yang bisa membahagiakan dirimu. Permasalahannya, apa yang bisa dilakukan jika perjodohan orang tua itu sudah diputuskan?

Baik perjodohan orang tua itu masih rencana atatupun sudah diputuskan, hal itu bukan akhir dari segalanya. Masih ada waktu untukmu berbenah. Tunjukkan dan buktikan kepada orang tua bahwa kalian adalah pasangan yang terbaik dan berbahagia. Yakinkan mereka akan hal itu. Ingat! usaha ini hanya bisa kamu lakukan jika cinta yang kamu jalani selama ini memang benar-benar cinta sejati. Orang tua akan merubah keputusan mereka jika apa yang mereka lihat dan mereka rasakan nantinya sesuai dengan apa yang kamu tunjukkan dan kamu yakinkan kepada mereka.

Hubungan percintaan mungkin saja akan hancur Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua. Namun bagi pasangan yang matang dan benar-benar memiliki cinta sejati, maka cinta itu sendiri akan abadi dan tidak akan hancur sampai kapanpun. Dan untuk menyatukan cinta sejati itu dari hubungan percintaan menjadi hubungan perkawinan, semua tergantung usahamu dan si dia untuk mewujudkannya.

Akhirnya, tanyakan lagi ke hatimu, benarkah si dia adalah satu-satunya cinta untukmu? Jika iya, maka bersatulah untuk menyatukannya. Perjodohan orang tua bukanlah sesuatu yang besar bagi setiap pasangan yang memiliki cinta yang besar. Ia hanyalah sebentuk kerikil tumpul yang bisa kamu lewati tanpa luka dengan kekuatan cinta. Karena kekuatan cinta itu di ukur dari seberapa besar usahamu untuk merengkuhnya, bukan menangisinya ketika ia hilang.
- See more at: http://dbecinta.blogspot.com/2013/10/ketika-cinta-terhalang-perjodohan-orang-tua.html#sthash.Sld7gOYH.dpuf

Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua ---Mungkin sebagian dari kamu pernah merasakan hal ini. Rasa gunda dan kecewa serta merta menerpa manakala hubungan percintaan yang selama ini telah dipupuk bersama harus berakhir karena terhalang perjodohan orang tua. Keinginan orang tua yang selalu dilandasi harapan agar sang anak bisa bahagia, selalu di jadikan alasan perjodohan. Sayangnya, hanya sedikit orang tua yang mampu memahami perasaan sang anak tentang arti kebahagiaan itu sendiri. Lalu, siapakah yang paling pantas disalahkan Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua?
Ketika hubungan percintaan harus berakhir akibat perjodohan orang tua, maka pihak yang paling disalahkan dalam hal ini adalah orang tua itu sendiri. Bagi sang anak, orang tua hampir tidak ada bedanya dengan diktator yang memaksakan kehendak dengan retorika kebenaran dan harapan yang hanya dipahami oleh mereka. Si anak sepertinya tidak diberi kesempatan untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya. walhasil, hubungan percintaan yang selama ini dijalani, harus berakhir dan meninggalkan secarik kenangan (semoga saja kenangan indah) hanya karena perjodohan orang tua.

Bagi pasangan yang bijak dan matang, menyalahkan keputusan orang tua tentang perjodohan bukanlah hal yang pantas dilakukan. Karena orang tua memang berhak dan berkewajiban untuk memutuskan dan merestui hubungan percintaan sang anak ketika itu sudah memasuki jenjang pernikahan. Orang tua tentunya ingin yang terbaik bagi anaknya dalam menjalani biduk rumah tangga. Permasalah utamanya justru terletak pada kamu dan pasangan ketika menjalani hubungan percintaan itu sendiri.

Ketika kamu mengatakan bahwa orang tua sama sekali tidak mengerti apa yang terbaik bagimu, apa dan siapa yang bisa membuatmu bahagia, harusnya ada sedikit pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri sebelum men-judge keputusan perjodohan orang tua. Seberapa besar usahamu selama ini dalam memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa ini yang terbaik bagimu, ini yang bisa membuatmu bahagia? Pernakah kamu memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa si dia adalah yang terbaik bagimu dan akan membuatmu bahagia?

Orang tua hanya bisa memandang dari sisi yang bisa mereka lihat dan mereka rasakan. Ketika mereka melihat kamu dan pasangan sesuai dengan yang mereka inginkan, maka restu orang tua pasti akan menghampiri kalian. Begitu juga jika mereka merasakan ada yang lebih baik bagi kamu di bandingkan si dia, maka orang tua akan memutuskan bahwa si dia tidak pantas untukmu, karena ada yang lebih baik dari itu.

Satu hal yang mesti kamu ingat sebagai anak, apapun keputusan orang tua selalu dilandasi keinginan akan yang terbaik bagimu, bukan untuk menghancurkanmu. Pun jika keputusan itu tidak sesuai seperti yang kamu inginkan, itu semua karena kurangnya usaha kamu dan pasangan untuk meyakinkan orang tua bahwa kalian bahagia bersama. Dan hanya si dia yang bisa membahagiakan dirimu. Permasalahannya, apa yang bisa dilakukan jika perjodohan orang tua itu sudah diputuskan?

Baik perjodohan orang tua itu masih rencana atatupun sudah diputuskan, hal itu bukan akhir dari segalanya. Masih ada waktu untukmu berbenah. Tunjukkan dan buktikan kepada orang tua bahwa kalian adalah pasangan yang terbaik dan berbahagia. Yakinkan mereka akan hal itu. Ingat! usaha ini hanya bisa kamu lakukan jika cinta yang kamu jalani selama ini memang benar-benar cinta sejati. Orang tua akan merubah keputusan mereka jika apa yang mereka lihat dan mereka rasakan nantinya sesuai dengan apa yang kamu tunjukkan dan kamu yakinkan kepada mereka.

Hubungan percintaan mungkin saja akan hancur Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua. Namun bagi pasangan yang matang dan benar-benar memiliki cinta sejati, maka cinta itu sendiri akan abadi dan tidak akan hancur sampai kapanpun. Dan untuk menyatukan cinta sejati itu dari hubungan percintaan menjadi hubungan perkawinan, semua tergantung usahamu dan si dia untuk mewujudkannya.

Akhirnya, tanyakan lagi ke hatimu, benarkah si dia adalah satu-satunya cinta untukmu? Jika iya, maka bersatulah untuk menyatukannya. Perjodohan orang tua bukanlah sesuatu yang besar bagi setiap pasangan yang memiliki cinta yang besar. Ia hanyalah sebentuk kerikil tumpul yang bisa kamu lewati tanpa luka dengan kekuatan cinta. Karena kekuatan cinta itu di ukur dari seberapa besar usahamu untuk merengkuhnya, bukan menangisinya ketika ia hilang.
- See more at: http://dbecinta.blogspot.com/2013/10/ketika-cinta-terhalang-perjodohan-orang-tua.html#sthash.Sld7gOYH.dpuf

Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua ---Mungkin sebagian dari kamu pernah merasakan hal ini. Rasa gunda dan kecewa serta merta menerpa manakala hubungan percintaan yang selama ini telah dipupuk bersama harus berakhir karena terhalang perjodohan orang tua. Keinginan orang tua yang selalu dilandasi harapan agar sang anak bisa bahagia, selalu di jadikan alasan perjodohan. Sayangnya, hanya sedikit orang tua yang mampu memahami perasaan sang anak tentang arti kebahagiaan itu sendiri. Lalu, siapakah yang paling pantas disalahkan Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua?
Ketika hubungan percintaan harus berakhir akibat perjodohan orang tua, maka pihak yang paling disalahkan dalam hal ini adalah orang tua itu sendiri. Bagi sang anak, orang tua hampir tidak ada bedanya dengan diktator yang memaksakan kehendak dengan retorika kebenaran dan harapan yang hanya dipahami oleh mereka. Si anak sepertinya tidak diberi kesempatan untuk memilih apa yang terbaik bagi dirinya. walhasil, hubungan percintaan yang selama ini dijalani, harus berakhir dan meninggalkan secarik kenangan (semoga saja kenangan indah) hanya karena perjodohan orang tua.

Bagi pasangan yang bijak dan matang, menyalahkan keputusan orang tua tentang perjodohan bukanlah hal yang pantas dilakukan. Karena orang tua memang berhak dan berkewajiban untuk memutuskan dan merestui hubungan percintaan sang anak ketika itu sudah memasuki jenjang pernikahan. Orang tua tentunya ingin yang terbaik bagi anaknya dalam menjalani biduk rumah tangga. Permasalah utamanya justru terletak pada kamu dan pasangan ketika menjalani hubungan percintaan itu sendiri.

Ketika kamu mengatakan bahwa orang tua sama sekali tidak mengerti apa yang terbaik bagimu, apa dan siapa yang bisa membuatmu bahagia, harusnya ada sedikit pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri sebelum men-judge keputusan perjodohan orang tua. Seberapa besar usahamu selama ini dalam memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa ini yang terbaik bagimu, ini yang bisa membuatmu bahagia? Pernakah kamu memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa si dia adalah yang terbaik bagimu dan akan membuatmu bahagia?

Orang tua hanya bisa memandang dari sisi yang bisa mereka lihat dan mereka rasakan. Ketika mereka melihat kamu dan pasangan sesuai dengan yang mereka inginkan, maka restu orang tua pasti akan menghampiri kalian. Begitu juga jika mereka merasakan ada yang lebih baik bagi kamu di bandingkan si dia, maka orang tua akan memutuskan bahwa si dia tidak pantas untukmu, karena ada yang lebih baik dari itu.

Satu hal yang mesti kamu ingat sebagai anak, apapun keputusan orang tua selalu dilandasi keinginan akan yang terbaik bagimu, bukan untuk menghancurkanmu. Pun jika keputusan itu tidak sesuai seperti yang kamu inginkan, itu semua karena kurangnya usaha kamu dan pasangan untuk meyakinkan orang tua bahwa kalian bahagia bersama. Dan hanya si dia yang bisa membahagiakan dirimu. Permasalahannya, apa yang bisa dilakukan jika perjodohan orang tua itu sudah diputuskan?

Baik perjodohan orang tua itu masih rencana atatupun sudah diputuskan, hal itu bukan akhir dari segalanya. Masih ada waktu untukmu berbenah. Tunjukkan dan buktikan kepada orang tua bahwa kalian adalah pasangan yang terbaik dan berbahagia. Yakinkan mereka akan hal itu. Ingat! usaha ini hanya bisa kamu lakukan jika cinta yang kamu jalani selama ini memang benar-benar cinta sejati. Orang tua akan merubah keputusan mereka jika apa yang mereka lihat dan mereka rasakan nantinya sesuai dengan apa yang kamu tunjukkan dan kamu yakinkan kepada mereka.

Hubungan percintaan mungkin saja akan hancur Ketika Cinta Terhalang Perjodohan Orang Tua. Namun bagi pasangan yang matang dan benar-benar memiliki cinta sejati, maka cinta itu sendiri akan abadi dan tidak akan hancur sampai kapanpun. Dan untuk menyatukan cinta sejati itu dari hubungan percintaan menjadi hubungan perkawinan, semua tergantung usahamu dan si dia untuk mewujudkannya.

Akhirnya, tanyakan lagi ke hatimu, benarkah si dia adalah satu-satunya cinta untukmu? Jika iya, maka bersatulah untuk menyatukannya. Perjodohan orang tua bukanlah sesuatu yang besar bagi setiap pasangan yang memiliki cinta yang besar. Ia hanyalah sebentuk kerikil tumpul yang bisa kamu lewati tanpa luka dengan kekuatan cinta. Karena kekuatan cinta itu di ukur dari seberapa besar usahamu untuk merengkuhnya, bukan menangisinya ketika ia hilang.
- See more at: http://dbecinta.blogspot.com/2013/10/ketika-cinta-terhalang-perjodohan-orang-tua.html#sthash.Sld7gOYH.dpuf